Sepeda sebagai sarana mobilitas warga di Indonesia terancam punah. Hal ini membutuhkan sejumlah terobosan untuk menjaga eksistensi dan mengembangkannya menuju mobilitas yang lestari.
Penggunaan sepeda sebagai moda mobilitas warga di Indonesia mengalami penurunan yang tajam selama beberapa dekade terakhir. Data menunjukkan mode share sepeda di Kota Surabaya dan Kota Medan sekitar satu persen.
Tren penggunaan sepeda sempat melonjak pada pandemi. Namun, hal ini tidak lantas menjadikan sepeda sebagai moda mobilitas harian. Pandemi berlalu, warga kembali menggunakan kendaraan bermotor untuk mobilitas hariannya.
Inisiator Mobilize Indonesia, Inanta Indra Pradana, mengatakan kegagalan adopsi sepeda dari tren menjadi pilihan mobilitas harian disebabkan oleh sejumlah tantangan struktural dan multidimensi. Tantangan ini meliputi kebijakan pemerintah yang tidak pro sepeda, baik pengguna maupun industri yang menyokongnya.
Selain itu, kondisi politik Indonesia tidak mendukung sepeda tumbuh subur. Perubahan sosial-ekonomi-kultural di masyarakat cenderung menyuburkan penggunaan kendaraan bermotor. Tak hanya itu, sepeda masih dibebani stigma sebagai kendaraan orang miskin.
“Indonesia tidak memiliki ekosistem bersepeda yang membuatnya tumbuh subur. Dalam jangka panjang, bukan tidak mungkin penggunaan sepeda menjadi kian langka dan punah perlahan karena pengguna dan ahli yang semakin berkurang,” kata Indra, dalam rilisnya, Rabu (15/10/2025).
Kondisi ini menjadi masa krisis bersepeda. Menurut Indra, hal ini seharusnya menjadi perhatian khalayak karena sepeda memiliki peran strategis untuk menciptakan kota yang lebih ramah manusia, menyehatkan, tangguh, dan lestari.
“Saat ini, misalnya, kita tengah berkejaran dengan waktu untuk menyelamatkan aset-aset infrastruktur sepeda yang tersisa, seperti jalur lambat historis yang tersebar di berbagai kota dan daerah dan pengikisan kultur bersepeda yang kini lebih sering dianggap sebagai mobilitas warga miskin,” ujar dia.
Maka itu, butuh sejumlah terobosan mengenai upaya penyelematan sepeda dari kepunahan. Hal ini akan dibahas dalam Talkshow The Last Miles: Menuju Kepunahan Sepeda yang digelar di Wisma Jerman, Kota Surabaya, Sabtu (18/10/2025). Acara ini membedah isu yang melingkupi mobilitas bersepeda, meliputi kultur mobilitas dan transportasi di Indonesia; posisi sepeda dalam konteks perkembangan transportasi di masa lalu, masa kini dan masa depan; aspek politis dan historis bersepeda; dan kondisi dan posisi industri/bisnis sepeda.
Talkshow ini menghadirkan Founder Transportologi Sukma Larastiti, Founder Roodebrug Soerabaia Ady Setyawan, dan Chief Communications and Media Relations Bike to Work Indonesia, Hani Sumarno.
“Semua bahasan ini pada akhirnya bermuara pada satu pertanyaan besar: apa langkah yang mungkin dilakukan untuk mencegah kepunahan sepeda dan mengembangkan mobilitas bersepeda di Indonesia?” pungkas Indra.[]
