Tenki no Ko: Adakah Masa Depan untuk Anak-anak di Negeri Bencana?

Tokyo hujan tanpa henti selama berbulan-bulan. Awan gelap setiap hari menggantung di langit dan matahari bersembunyi. Di Tokyo yang dibasahi hujan setiap hari, orang kesulitan beraktivitas. Anak-anak yang sehat dan sakit tak mampu bermain keluar dan hanya bisa melihat halaman dari balik jendela.

Anime terbaru Makoto Shinkai berjudul Tenki no Ko (Weathering with You) yang dirilis pada 21 Agustus kemarin di Indonesia menuai banyak kritik tajam dan luapan kekecewaan dari para penggemarnya. Sayangnya, mereka luput mengamati apa yang menjadi perhatian seorang Makoto Shinkai dalam anime ini: adakah kehidupan dan masa depan anak-anak di negeri bencana?

Cerita Tenki no Ko berpusat pada kehidupan Hodaka Morishima (16 tahun) dan Hina Amano (15 tahun, tetapi mengaku 18 tahun agar bisa bekerja). Hodaka adalah seorang anak laki-laki yang merasa tidak bahagia di rumahnya dan melarikan diri ke Tokyo. Ia sempat hidup terlunta-lunta dan hidup menjadi buronan polisi karena laporan anak hilang dan dituduh menyimpan senjata tak berizin. Ia akhirnya dipekerjakan oleh Keisuke Suga, orang yang menyelamatkan hidupnya di kapal saat berangkat ke Tokyo, sebagai penulis untuk majalah misteri.

Hina adalah anak perempuan yang mendadak menjadi tulang punggung keluarga dan merawat adiknya, Nagisa Amano, yang masih kecil karena sang ibu meninggal dunia. Hina bukan gadis biasa. Ia memiliki kekuatan pemberian dewa untuk mencerahkan cuaca. Ia disebut sebagai gadis matahari. Hina sendiri nyaris terjebak bekerja di bisnis gelap Tokyo akibat dipecat dari pekerjaan sebelumnya. Hodaka lah yang menyelamatkannya dari sana.

Pertemuan Hodaka dengan Hina memiliki arti khusus bagi Hodaka. Hina bukan hanya gadis yang memberinya makanan saat ia terlunta-lunta di Tokyo, melainkan sekaligus gadis matahari yang dicari-carinya selama ini untuk pekerjaan tulisan dari Suga. Tokyo yang disinggahi dan ditinggali oleh Hodaka dan Hina kala itu adalah Tokyo yang sedang diliputi (bencana) hujan yang tidak berhenti hampir selama dua bulan lamanya.

Setelah mengetahui kekuatan Hina, Hodaka mengajak Hina dan Nagisa untuk mengelola bisnis pawang hujan. Pekerjaan ini dilakukan dengan alasan pragmatis untuk menghidupi mereka, tanpa menyadari ada bayaran mahal yang harus ditebus setiap kali Hina menggunakan kekuataannya. Hina bisa menghilang.

Seiring berjalannya waktu, hujan di Tokyo tak juga berhenti, bahkan bertambah parah. Cuaca memburuk. Tokyo dilanda banjir dan hujan salju, kendati saat itu tengah memasuki musim panas. Pengorbanan gadis matahari mampu membuat cuaca “normal” kembali.

Hina akhirnya mengorbankan diri agar hujan berhenti di Tokyo dan langit kembali cerah. Sebuah harga yang amat mahal dari seorang anak manusia agar bumi (baca: Tokyo) bebas bencana. Hodaka yang menyadari Hina menghilang berusaha mencari dan mengembalikan Hina, walau itu berarti harus melawan orang-orang dewasa di sekitarnya, seperti polisi ataupun Suga yang mengabaikannya. Hodaka memilih Hina tinggal di bumi dengan segala konsekuensinya, walau itu berarti membuat Tokyo tenggelam.

Sampai di sini, penonton bisa terjebak pada sebuah kesimpulan bahwa anime kali ini sangat biasa. Inilah tantangan dari memahami karya Makoto. Jika dibandingkan dengan karyanya yang lain, hampir seluruh karyanya menceritakan kisah hari-hari biasa saja (slice of life), tanpa berpretensi untuk menghakimi atau menasehati siapapun. Ia ingin menunjukkan ada banyak sisi dalam kehidupan manusia biasa.

Dalam anime ini, Makoto ingin memperlihatkan dengan sangat kentara bahwa sebuah movie tak perlu melulu berkisah tentang heroisme, seperti dalam fiksi sains The Day After Tomorrow, atau kisah cinta yang melulu tentang jantung berdegup-degup. Kadangkala, manusia begitu kecil untuk mengubah keadaan yang maha dasyat dan butuh upaya lebih untuk mencinta dunia yang begitu. Dunia memang selalu gila, demikian kata Suga untuk menghibur ketidaknyamanan Hodaka atas pilihan hidupnya.

Makoto memilih tema bencana iklim, salah satu isu yang tengah menjadi perhatian dunia masa kini, yang dikemas dengan halus. Kisah dunia yang menghadapi krisis bencana dari mata remaja—yang kurang tahu apa yang terjadi pada lingkungan tempat mereka tinggal, terjebak di dalamnya tanpa daya, dan masih harus menghadapi masalah sehari-hari mereka, mulai dari kekhawatiran tentang hidup, konflik dengan keluarga dan sekitar, hingga masalah percintaan. Ia mengantarkan sebuah pertanyaan kecil kepada kita: masih adakah masa depan bagi anak-anak di negeri bencana?

Makoto juga dengan cerdik memainkan isu-isu keikliman kini dalam anime dengan menyatukannya dalam plot cerita, desain lanskap yang jadi latar belakang, ataupun lagu latar. Misalkan saja pilihan warna abu-abu atau warna bersaturasi rendah yang dominan untuk menggambarkan (masa depan) dunia yang suram; animasi penuh hujan yang sebenarnya menggambarkan penanda masalah keikliman; konflik anak-anak dan orang dewasa yang dialami anak-anak demonstran #FridayforFuture yang diwujudkan dalam konflik Hodaka-Hina versus Suga dan polisi; menggugat sebutan “abnormalitas” hujan yang turun, yang sebenarnya normal di dunia yang terlanjur dikacaukan manusia; petunjuk buku “Edukasi untuk Generasi Geologi Baru” yang dibutuhkan dalam kehidupan kita sekarang; dan gugatan-gugatan atas masalah lingkungan dan masa depan anak-anak dalam lagu Ai ni Dekiru Koto wa Mada Aru Kai (Is There Still Anything that Love Can Do?).

Lagu dalam karya Makoto sangat penting karena ia adalah bagian cerita, bukan sekadar pelengkap. Saya menggunakan terjemahan lirik Green Moriyama dalam blog pribadinya setelah membandingkannya dengan yang lain:

Mengapa mimpi diperlihatkan kepada kami yang tak memiliki apapun?/Mengapa harapan diberikan pada kami, padahal hidup kami akan berakhir?/Mengapa kami diberi sesuatu yang terus terlepas dari tangan kami? Kendati begitu, apakah kamu akan menganggap kami yang hidup mengelesot itu buruk?/Ataukah itu indah?/Kumohon jawablah

Walau begitu, karya Makoto kali ini memang tidak lepas dari kekurangan. Yang pertama, pemilihan warna abu-abu sebagai tema warna utama membuat anime ini jadi kurang menarik di mata—walau tentu saja telah digarap dengan indah. Yang kedua, pola dialog yang mirip dengan Kimi no Nawa dan pemilihan Radwimps sebagai pembuat lagunya meninggalkan rasa seperti tidak dapat meninggalkan Kimi no Nawa. Yang ketiga, anime ini tidak memainkan twist yang mengejutkan sehingga mudah membuat penonton kebanyakan merasa bosan, yang sebenarnya tidak masalah dalam kisah yang suram. Yang keempat, pemutaran anime ini di bioskop di Indonesia yang memiliki pengeras suara buruk serta hilangnya lirik lagu karena tidak dituliskan dalam subtitle membuat anime ini semakin terpuruk. Penonton jadi kehilangan benang cerita yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Makoto.

Sebagai orang yang bekerja bersinggungan dengan isu lingkungan dan bencana serta intens mengikuti perkembangan isu krisis iklim selama dua tahun terakhir, anime Makoto memberi saya pencerahan dan pemafaan atas segala keterbatasan dan kegagalan saya sebagai manusia untuk berbuat sesuatu ketika berhadapan dengan masalah super dahsyat. Sesuatu yang tidak saya peroleh dari kajian-kajian keagamaan yang belakangan ini terus terjebak pada isu politis yang menjemukan dan tidak penting.

Dunia seringkali gila. Akan tetapi, barangkali sudah waktunya bagi manusia berhenti bermain-main dengan cuaca. Apakah dunia anak-anak di masa depan akan lapuk bersama dengan iklim yang semakin memburuk?

 

Referensi:

Lirik Ai ni Dekiru Koto wa Mada Aru Kai (Is There Still Anything that Love Can Do?)

 

Sukma Larastiti. Tulisan ini dibuat untuk seri Krisis Iklim Transportologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *