Perempuan Pasca-Kartini dan Tantangan Perubahan Bumi

“Pekerjaan memajukan peradaban itu seharusnya diserahkan kepada kaum perempuan. Dengan demikian maka peradaban itu akan meluas dengan cepat dalam kalangan bangsa Jawa. Ciptakanlah ibu-ibu yang cakap serta berpikiran, maka tanah Jawa pasti akan mendapat pekerja yang cakap. Peradaban dan kepandaiannya akan diturunkan kepada anak-anaknya. …” (RA Kartini dalam surat untuk Tuan Prof. Dr. G.K. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902)

Indonesia masa kini sudah berjarak 117 tahun sejak tulisan itu dibuat oleh Kartini. Kita sudah banyak berubah. Kita tidak lagi disebut Hindia Belanda; anak perempuan dapat bersekolah sebagaimana anak laki-laki, bahkan ke luar negeri(!); anak perempuan dapat bekerja menjadi guru, bidan, dokter, atau pelukis yang tidak dimungkinkan di masanya; dan peradaban sudah maju sangat cepat—orang tidak perlu menulis lagi surat atau balasan yang dikirim selama berhari-hari, berminggu-minggu untuk sampai ke tujuan dan kembali kepada penerimanya.

Kita hidup tinggal menyalakan kotak kecil dalam jinjingan kita tiap hari, dengan satu klik dan hitungan detik, pesan kita sampai dan berbalas. Kereta api yang dikagumi Kartini tak lagi menderu-deru mengeluarkan uap dan bisa sampai dalam waktu yang jauh lebih cepat. Pesawat terbang lalu-lalang, yang dulu mungkin hanya sebuah keajaiban. Jalanan pun begitu keras dan bersih, dengan naik mobil—teknologi yang tak sempat dilihat Kartini—melewati tol orang bisa menempuh jarak Jakarta hingga Semarang dalam waktu enam jam.

Peradaban masa kini memudahkan banyak kehidupan manusia. Akan tetapi, peradaban masa kini tumbuh dan berkembang dengan konsekuensi tidak murah. Untuk menyuplai kebutuhan konsumsi manusia, pabrik-pabrik dibangun, tanah dikeruk, hutan diratakan, dan kendaraan bermotor berkembang pesat, nyaris tanpa kendali. Efeknya, sejak masa revolusi industri, kadar CO2 di udara terus meningkat, meningkatkan suhu bumi, dan mendorong fenomena perubahan iklim yang mempengaruhi kehidupan makhluk hidup di seluruh bumi.

Perubahan suhu bumi dari 1880- 2017

Perubahan suhu permukaan laut dari tahun 1982-2017

Perbandingan pemanasan bumi antara akibat alamiah dan bentukan manusia

Fenomena perubahan iklim mengakibatkan bencana-bencana ekstrem seperti tenggelamnya daratan oleh kenaikan air laut, kekeringan, hujan ekstrem, bahkan meningkatkan potensi dan intensitas siklon tropis dapat mengacaukan pertanian, merusak infrastruktur, hilangnya tanah dan pekerjaan, yang eksesnya pada kerentanan pangan, kesehatan, kemiskinan, dan peningkatan kejahatan. Masalah perubahan iklim menyangkut masalah ketahanan pangan, ekonomi, dan sosial bangsa.

Fenomena ini dapat dihambat lajunya dengan mendorong upaya-upaya berkelanjutan agar suhu bumi tidak melampaui 1,5 derajat Celsius, sebagaimana tercatat dalam Perjanjian Paris. Sayangnya, berbagai studi memperkirakan, batas ini dapat diterabas dalam waktu sekitar satu dekade, bahkan mungkin bisa lebih cepat. Indonesia sendiri termasuk negara yang akan mengakibatkan pemanasan bumi antara 3-4 derajat Celsius, jika tak lekas melakukan perubahan yang mendasar dalam kebijakan pembangunannya.

Peran Perempuan

Jika Kartini pada masa lalu berhadapan dengan masalah keterbatasan ruang gerak perempuan, rendahnya tingkat pendidikan, dan permasalahan kesehatan untuk turut serta dalam mendorong kemajuan peradaban, apa yang dapat dilakukan para perempuan masa kini dalam situasi ini?

Dibandingkan para laki-laki, perempuan dan anak-anaknya termasuk kelompok yang rentan menghadapi perubahan iklim. Perempuan dan anak-anak 14 kali lebih rentan mengalami kematian dan cedera jika terjadi bencana (Asian Development Bank [ADB], 2016).

Dari kasus bencana yang sudah terjadi seperti tsunami pada 2004, 77 persen korbannya adalah perempuan yang tidak bisa berenang. Sedangkan pada bencana siklon tropis di Vanuatu pada 2011 meningkatkan kekerasan rumah tangga hingga 300 persen. Kalangan perempuan dan ibu pula yang pertama kali akan menghadapi masalah kebutuhan nutrisi bagi bayi dan anak-anak. Sementara itu, anak-anak mudah lebih terjangkit penyakit yang ditimbulkan oleh parasite, virus, dan bakteri; anak-anak pula tak mampu mengurus dirinya sendiri jika bencana terjadi; malnutrisi; dan kehidupan dalam ketidakadilan dan kemiskinan.

Dengan risiko sebesar ini bagi perempuan dan anak-anak, saat ini merupakan waktu bagi perempuan untuk turun langsung mendorong perubahan kehidupan dan peradaban yang lebih bagi untuk kehidupan di masa mendatang. Pada skala individu, perempuan mendorong kehidupan yang lebih bersih dengan mengurangi penggunaan alat ataupun kendaraan yang menghasilkan emisi gas buang, seperti mengurangi berkendara kendaraan bermotor dan beralih menggunakan angkutan umum, bersepeda dan berjalan kaki serta belanja dan mengkonsumsi kebutuhan sehari-hari yang rendah karbon.

Di lingkungan tempat tinggalnya dan kantornya, perempuan dapat mendorong perempuan yang lain untuk turut serta hidup dengan rendah karbon. Perempuan juga dapat membentuk workshop dan diskusi kecil untuk menyebarkan pengetahuan tentang kehidupan rendah karbon dan aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang akan dihadapi, yang mungkin terjadi tidak lama lagi.

Di tingkat yang lebih luas, perempuan perlu membentuk komunitas untuk turut mengadvokasi dan mendorong kebijakan pemerintah agar lebih rendah karbon. Tanpa dorongan dari warga yang kuat, kebijakan pemerintah akan tetap berada dalam kondisi status quo, yang pada akhirnya merugikan masyarakat itu sendiri. Upaya-upaya perbaikan membutuhkan dukungan menerus dari seluruh elemen bangsa dan negara, terlebih lagi perempuan.

Sebagaimana yang dikatakan Kartini, perempuan memegang peranan penting dalam memajukan peradaban. Selama ini, perempuan seringkali disimbolkan dengan bumi, yang merawat dan memelihara kehidupan. Ayo, bersuaralah dan bergeraklah, perempuan!

 

Sukma Larastiti, bergiat di Transportologi untuk mengembangkan transportasi yang berkelanjutan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *