Kenapa Anak-anak Tak Lagi Bersepeda dan Berjalan Kaki?

Laporan ini merupakan ringkasan kegiatan diseminasi hasil survei yang telah dilaksanakan pada November 2019 yang mengangkat topik “Kenapa Anak-anak Tak Lagi Bersepeda dan Berjalan Kaki?” yang diselenggarakan pada 8 Februari 2020 di Ruang Solidaritas Joli Jolan. Acara diskusi ini dilaksanakan atas kerja sama Joli Jolan.

Anak-anak termasuk salah satu kelompok yang jarang dibahas dalam lanskap transportasi Indonesia masa kini, yang berfokus terhadap pergerakan kendaraan bermotor. Pergerakan anak-anak selama dua dasawarsa terakhir dengan bersepeda dan berjalan kaki cenderung mengalami penurunan di jalan raya, dibandingkan dengan jumlah kendaraan bermotor yang terus mengalami peningkatan pesat pada periode yang sama. Situasi serupa terjadi di Kota Solo.

Secara geografis, Kota Solo yang berada di dataran rendah sangat sesuai untuk kegiatan bersepeda dan berjalan kaki. Pesepeda dan pejalan kaki tidak dihadapkan pada jalan-jalan menanjak dan curam yang menguras stamina. Luas kota ini hanya 44 kilometer persegi dengan jarak terjauh ujung utara hingga selatan hanya sekitar 7 kilometer dan jarak timur ke sekitar 9 kilometer—jarak yang dapat ditempuh untuk pergerakan jarak pendek dan menengah.

Kota ini juga memiliki jalur lambat terpajang yang menyambungkan jalur-jalur protokol di seluruh kota yang telah ada sejak zaman Hindia-Belanda, kendati kini mengalami pemendekan akibat perubahan fungsi jalan dan konstruksi jalan lintas atas. Walau Kota Solo memiliki keuntungan geografis dan infrastruktur peninggalan masa lalu, peralihan penggunaan moda transportasi tidak terelakkan dengan mengikuti tren yang terjadi dan kebijakan transportasi kota yang dibentuk tidak memperkuat struktur tata ruang transportasi yang pernah terbentuk.

Masalah peralihan penggunaan moda transportasi, khususnya di kalangan anak-anak, umumnya dianggap sebagai penyebab utama atas minimnya anak-anak yang bersepeda dan berjalan kaki. Situasi ini terjadi sesungguhnya tak terlepas dari peran orang tua masa kini yang mendorong anak-anak mereka agar mampu berkendara saat mereka masih belia. Untuk menangani masalah tingginya kendaraan bermotor oleh anak-anak, walikota Solo sempat mengusulkan penerbitan Surat Izin Mengemudi (SIM) khusus untuk pelajar di bawah 17 tahun pada September 2019.

Usulan penerbitan SIM khusus pelajar memiliki risiko peningkatan kecelakaan pada pelajar karena mereka belum matang secara psikologis untuk menghadapi situasi jalan raya. Selain itu, usulan semacam ini sesungguhnya tidak mengatasi masalah yang terdapat di sektor transportasi di Indonesia. Situasi ini yang mengantar kami melakukan riset kecil di Kota Solo untuk mendalami kenapa anak-anak tak lagi bersepeda dan berjalan kaki?

Hasil

Survei yang kami lakukan kami batasi dengan cara pengisian daring karena keterbatasan surveyor dan pendanaan. Survei ini menjaring 68 responden dewasa di atas umur 17 tahun, baik yang memiliki anak dan tidak dari Kota Solo dan Soloraya yang sering beraktivitas di Kota Solo. Mereka terdiri dari 45,59% laki-laki dan 54,41% perempuan dengan 88,24% telah berusia lebih dari 21 tahun. Dari seluruh responden, 48,53% responden memiliki anak lebih dari satu, sedangkan sisanya belum. Orang dewasa yang belum memiliki anak tetap dimasukkan untuk mengetahui pandangan mereka jika memiliki anak di masa yang akan datang.

Mayoritas responden (31 orang) memilih kendaraan pribadi (mobil dan sepeda motor) untuk mengantarkan anak atau digunakan sendiri oleh sang anak. Sementara itu, angkutan umum terbanyak yang dipilih untuk digunakan anak-anak adalah bus kota Batik Solo Trans (BST) dan angkutan daring.

Orang dewasa memilih kendaraan pribadi sebagai moda transportasi kendati mereka atau orang terdekat mereka pernah mengalami kecelakaan di jalan raya. Sebanyak 64,71% responden mengalami kecelakaan sendiri; 48,53% kecelakaan dialami oleh istri responden; 23,53% kecelakaan dialami oleh orang tua responden; dan 10,29% kecelakaan dialami oleh anak responden. Hanya 1,47% yang belum pernah mengalami kecelakaan.

Dari seluruh kecelakaan  yang dialami oleh responden, 57,35% adalah kecelakaan antara sesama kendaraan pribadi; 20,59% jatuh sendiri; 10,29% antara sepeda dengan kendaraan pribadi; 7,35% antara kendaraan pribadi dengan bus atau truk; dan 4,41% tertabrak kendaraan pribadi Ketika berjalan kaki. Mayoritas korban kecelakaan mengalami luka ringan (83,32%), sementara sisanya luka berat (16,18%) dan meninggal (2,94%).

Pemilihan penggunaan kendaraan pribadi sebagai moda transportasi mayoritas dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kemudahan; waktu tempuh; jaminan keamanan; kenyamanan; sulitnya akses angkutan umum dari rumah; keterjangkauan biaya; dan sebagainya. Faktor keamanan menjadi faktor yang paling dipertimbangkan responden memilihkan moda transportasi untuk mengantar atau untuk digunakan anak. Faktor keamanan disetujui oleh 61 dari 68 responden.

Keamanan paling dipertimbangkan oleh 17 responden yang memiliki anak karena khawatir terjadinya kejahatan di jalan. Kekhawatiran akan kejahatan ini di atas kekhawatiran lainnya, selain kecelakaan, pelecehan seksual, atau kejadian lain. Hasil ini menunjukkan bahwa masalah keamanan atau kejahatan di jalan jadi pertimbangan utama orang tua tidak mengizinkan anak-anak bersepeda dan berjalan kaki, walaupun risiko keselamatan berpergian dengan kendaraan pribadi tinggi—ditunjukkan dengan kejadian kecelakaan yang dialami oleh responden.

Masalah keamanan adalah tantangan yang perlu diatasi sektor transportasi apabila ingin mendorong anak-anak bersepeda dan berjalan kaki di jalan raya serta mengurangi kekhawatiran orang tua. Sayangnya, permasalahan ini tidak bisa ditangani oleh sektor transportasi sendirian. Butuh upaya struktural dan kultural untuk menciptakan ruang publik jalan raya yang lebih aman, tak hanya lebih selamat.

Beberapa usulan untuk menciptakan ruang jalan raya yang lebih ramah anak antara lain mendesain jalan agar lebih aman dan selamat; menambah pepohonan dan taman di jalan; menambah jalur sepeda; menambah angkutan umum; menambah dan memperlebar trotoar; menyediakan sepeda sewa; memperlebar jalan; menambah parkir; dan lainnya. Responden sangat mau (19 orang) dan mau (19 orang) untuk berpindah moda bersepeda dan berjalan kaki apabila jalan raya lebih ramah anak. Sementara itu, 20 orang masih bersikap netral dan sisanya belum mau berpindah (10 orang). Hal ini menunjukkan ada keinginan untuk berpindah moda dengan catatan ada penyediaan ruang jalan yang lebih ramah anak.

Aksi Perubahan

Perubahan menuju jalan yang lebih ramah anak dan mendorong lebih banyak anak beraktivitas di jalan dengan bersepeda dan berjalan kaki juga membutuhkan strategi kultural, selain struktural yang berwujud penyediaan fasilitas umum dan layanan publik.

Upaya kultural yang bisa dilakukan meliputi ajakan untuk mulai berpindah naik sepeda dan berjalan kaki dan mendorong penggunaan kelengkapan bersepeda seperti rompi, lampu, dan lainnya untuk meningkatkan keselamatan pesepeda dari kecelakaan. Sri Baskoro mengungkapkan selama ini Dinas Perhubungan dan Kementrian Perhubungan telah memiliki program kampanye angkutan umum dan lalu lintas untuk anak-anak. Kegiatan ini sudah dilakukan rutin tiap tahun.

Hal lain yang diusulkan peserta diskusi yaitu peningkatan citra bersepeda dan berjalan kaki, yang selama ini lebih sering disorot dari sisi kejadian kecelakaan; mendorong upaya saling menjaga di ruang publik terutama terhadap pengawasan anak-anak oleh orang dewasa di sekitarnya karena keamanan ruang publik adalah tanggung jawab bersama; serta perlunya perbaikan tata ruang sekolah yang saat ini berubah di Kota Solo. Kebijakan zonasi di sekolah yang ditetapkan oleh pemerintah bisa menjadi pintu masuk untuk membangun ulang budaya bersepeda dan berjalan kaki dari nol.

Windu Mulyana, pesepeda dari Kota Bandung yang sempat terlibat gerakan untuk mendorong anak berjalan kaki dan bersepeda di sekolah, mengungkapkan keterlibatan orang tua dari anak adalah kunci perubahan yang mampu mendorong semakin banyak anak yang bersepeda dan berjalan kaki. Anak-anak sesungguhnya ingin mengeksplorasi dunia di luar rumah atau sekolah dengan bersepeda atau berjalan kaki. Langkah pertama yang bisa dilakukan untuk mengurangi rasa khawatir orang tua adalah mendampingi prosesnya dan memilihkan rute aman untuk anak-anak.

 

Laporan ini ditulis oleh Sukma Larastiti

2 thoughts on “Kenapa Anak-anak Tak Lagi Bersepeda dan Berjalan Kaki?

  1. Selain perbaikan dan ekspansi sarana seperti rute dan jumlah bus dan kereta perkotaan, sarana pejalan kaki, ada patutnya kalangan pelajar, mahasiswa, tenaga pengajar, dan administrasi institusi pendidikan diwajibkan menggunakan transportasi umum. Pada jam pergi-pulang sekolah, ongkos perjalanan digratiskan untuk kalangan ini. Kartu pelajar/mahasiswa merangkap juga sebagai kartu transportasi, sehingga jumlah perjalanan dan waktunya ada jejak rekamnya dan jadi salah satu bentuk pengabsenan. Jika pelajar tidak memenuhi jumlah kuota, yang bersangkutan otomatis tidak naik kelas. Apabila hal ini diterapkan, pemerintah lokal dan pusat ada motif kuat untuk mengekspansi jaringan bus dan kereta perkotaan tersebut, selain juga perbaikan pelbagai sistem penunjangnya. Tentunya harus ada pengecualian untuk yang tinggal dalam radius jangkauan jalan kaki dari tujuan (sekolah atau kampus).

    1. Betul. Saat ini, upaya-upaya tersebut masih menjadi PR bersama. Mari bersama-sama dorong pemerintah untuk mewujudkannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *