Everything in Between: Perjalanan Memaknai Hidup Manusia, Hewan, dan Tumbuhan

Everything in between it’s where we live our dreams
It tells us about something
I found you, I found me
~Andien feat Endah N Rhesa

Senandung lagu mendayu tersebut mengisahkan perjalanan Diego yanuar dan Marlies Fennema saat bersepeda menempuh sekitar 12 ribu km melewati 23 negara dari Belanda ke Indonesia. Diego dan Marlies menamai perjalanan bersepeda ini sebagai Everything in Between.

Diego dan Marlies tidak hanya berdua dalam melakukan perjalanan pencarian makna hidup ini. Sepanjang perjalanan, di mulai dari Belanda menyusuri belahan Aropa-Asia Tengah-Asia Tenggara hingga Indonesia, mereka mengajak banyak orang menjadi bagian dari perjalanan mereka dengan melakukan donasi untuk tiga lembaga yang peduli terhadap manusia, hewan, dan tumbuhan. Tiga lembaga tersebut yaitu Lestari Sayang Anak, Jakarta Animal Aid Network (JAAN), dan Kebun Kumara. Diego dan Marlies mengenal dekat bagaimana tiga lembaga tersebut bekerja. Mereka berharap perjalanan bersepeda ini tidak hanya berarti sebagai pengalaman personal tapi bermanfaat juga untuk makhluk hidup lainnya.

Romantika Bersepeda

Bersepeda berdua bersama pasangan tentu menjadi kegiatan yang romantis dan mudah untuk dilakukan oleh semua orang. Sekelebat saya pun terbayang foto hitam putih Pak Soekarno bersama Ibu Fatmawati di atas sepeda onthel. Syahdu. Sayangnya, perjalanan Diego dan Marlies tidak melulu berkisah tentang romantika belaka.

Tiga hari pertama perjalanan mereka sempat berdebat karena mereka masih butuh menyesuaikan diri untuk menghadapi perjalanan yang jauh. Padahal mereka telah mempersiapkan perjalanan ini sejak tiga tahun sebelumnya.

Ide perjalanan bersepeda Belanda–Indonesia ini terbesit saat Diego kerap bolak-balik Belanda-Indonesia mengunjungi kekasih hati, Marlies. Dari atas pesawat ia melihat begitu banyak negara dan muncul pemikiran kenapa tidak sesekali melakukan perjalanan dengan menggunakan sepeda.

Gayung bersambut, Marlies pun setuju menjadikan perjalanan ini sebagai proses memaknai arti kehidupan sembari sejenak menyingkirkan hiruk pikuk rutinitas hidup dan belajar untuk lebih menyelami diri sendiri lewat perjalanan dan mengenal dunia yang beragam. “Sambil mempelajari banyak hal seperti bahasa yang berbeda, makanan, kebudayaan, dan lain-lain,” imbuh Diego.

Persiapan pun dimulai dengan mengecek rute perjalanan, mencari-cari informasi, dan bertanya ke sana-kemari. “Untuk persiapan perjalanan, Marlies lebih detil daripada saya,” tambah Diego. Marlies optimis perjalanan ini bisa dilakukan. “Semua kota memiliki jalan raya, jadi kenapa tidak?” alasan Marlies.

Mereka memulai pada bulan April, saat suhu masih dingin dan mereka masih bisa melakukan manajemen perjalanan dengan baik. Mereka memutuskan untuk berhenti di bumi perkemahan berbayar yang tersedia. Selepas dari Republik Ceko, mereka memutuskan mengayuh semampunya dan berhenti di mana saja ketika mereka lelah.

Masuk ke wilayah Asia Tengah, cuaca sudah berubah panas bahkan hampir mencapai 500 C. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi Marlies karena kulitnya memerah karena panas dan beberapa makanan juga tak melulu pas buat pencernaannya.

Marlies juga sempat bercerita ia mandi dengan menggunakan tumpukan salju karena kebetulan kota yang dikunjunginya kekurangan air. Diego juga menambahkan kisah mereka terengah-engah mengayuh sepeda menanjak di ketinggian sekitar 4.500 mdpl di Tajikistan. “Salah kayuh sedikit sudah hilang nafasnya,” ingat Diego.

Mereka tidak perlu lagi kata untuk terus saling menyemangati. Hanya tekad dan keyakinan yang membuat mereka terus mengayuh. Diego dan Marlies menyadari bahwa kondisi tidak terduga bisa kapan saja hadir. Mereka bahkan menyiapkan diri ketika salah satu dari mereka meninggal, harus ada yang terus menyelesaikan perjalanan.

Meskipun Diego dan Marlies mewujudkan perjalanan tersebut dengan susah payah, mereka meyakini semua orang dengan persiapan yang matang dapat melakukannya. Perjalanan bersepeda lintas benua memang bukan pertama kali dilakukan oleh mereka saja.

Banyak pegowes dari Indonesia maupun negara lain yang bersepeda lintas negara maupun lintas pulau dan kota. Salah satu yang sering kita dengar adalah Bambang Paimo Hartadhi. Kisah para pegowes tersebut membuktikan bahwa sepeda merupakan moda transportasi yang tak lekang oleh zaman dan mampu untuk digunakan kemana saja.

Diego pun bertutur bahwa mereka bertemu banyak pesepeda yang sedang berkelana. Jumlahnya tidaklah sedikit. Ada pula organisasi bernama warmshowers yang menawarkan persinggahan bagi para pesepeda touring dan membantu perjalanan mereka. Para pesepeda bersama warga lokal tersebut menjadi keluarga-keluarga baru mereka di setiap negara.

Perjalanan Diego dan Marlies tidak melulu seberat itu. Banyak kota yang menyenangkan untuk bersepeda. Menurut Marlies, salah satunya ada di Asia Tenggara yaitu Thailand. Cuaca di Thailand cukup nyaman dan banyak tempat jajanan sehingga tidak terlalu bingung memikirkan akomodasi. Selain itu regulasi pemerintah Thailand untuk memprioritaskan pengguna sepeda juga ditaati oleh para pengguna jalan lainnya. Sedangkan Diego lebih memilih Ceko sebagai kota ternyaman dengan hawa pedesaan yang tidak terlalu dingin juga tidak panas.

Saat ditanya di mana penduduk kota yang banyak menggunakan sepeda, Diego menjawab Negeri Belanda, Uzbekistan, dan Chengdu dengan sistem bikesharing-nya. Pesepeda touring justru banyak mengunjungi Tajikistan untuk menikmati sensasi mengayuh di pegunungan. Indonesia pun punya potensi untuk menjadi kota ramah dan romantis untuk bersepeda. “Indonesia juga memiliki banyak rumah makan dan jalan yang baik. Itu sudah cukup untuk istirahat dan menumpang mandi,” canda Marlies.

Semua Tentang Hayati

Pujangga Henry Miller berkata bahwa tujuan perjalanan terkadang bukan sebuah tempat tapi cara pandang yang baru. Begitupun bagi Diego dan Marlies, banyak pandangan yang terkonstruksi dari keragaman hayati, komunikasi antar manusia, dan proses mengenal diri lebih dalam.

Diego merasa bahwa keramahan manusia yang ia temui selama perjalanan tidak cukup dibalas dengan terimakasih. Oleh karena itu, penting bagi mereka untuk tetap berbuat baik dan berbagi sebagai bentuk syukur dan membalas kebaikan orang lain. “Kalau semua orang di dunia baik, Bumi ini sudah menjadi surga itu sendiri,” imbuh Diego.

Diego berpendapat bahwa kekayaan alam dunia begitu banyak dan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia. Hanya saja manusia terlalu destruktif mengeruk kekayaan alam untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup.

Marlies sendiri merasa perlu menanamkan sikap menghormati apa-apa yang telah manusia ambil dari alam, menjaga alam, dan memberi hak hidup yang sama untuk seluruh makhluk hidup. “Semua yang ada di alam ini berhak untuk hidup termasuk bunga bahkan lalat. Dengan menghormati hak makhluk hidup untuk hidup maka kita belajar berkontribusi terhadap alam,” jawab Marlies.

Bumi sedang terancam bahaya. NASA mengungkapkan temperatur rerata bumi sejak akhir abad ke 19 hingga tahun 2018 meningkat sampai 0.82­0 C. Suhu tersebut merupakan rerata suhu terpanas bumi keempat setelah tahun 2016, 2017, dan 2015. Pada tahun 2015, hampir 200 negara menandatangi perjanjian upaya pengurangan perubahan iklim di Paris (Paris Agreement on Climate Change) dengan menjaga suhu bumi tidak lebih dari suhu 20 C dan menahan laju pertumbuhan suhu di 1.50 C.

Upaya tersebut bertujuan mencegah dampak perubahan iklim yang membahayakan manusia seperti naiknya air laut yang menyebabkan beberapa tepian pantai tidak lagi aman untuk ditinggali, kekeringan berkepanjangan, angin panas yang ekstrem, banjir, kerusakan agrikultur yang berujung pada kelaparan, badai kencang, dan kemunculan beragam penyakit.

Diego berpesan bahwa Bumi yang kita tinggali saat ini adalah bumi yang terbaik yang kita bisa nikmati. “Bumi sekarang belum tentu sama dengan bumi yang akan dinikmati oleh anak dan cucu kita”, ujarnya.

Diego dan Marlies sendiri mengaku belum bisa sepenuhnya lepas dari kegiatan yang menimbulkan emisi dan berdampak buruk terhadap lingkungan. Setidaknya buah perjalanan tadi, pemahaman pentingnya menjaga alam, dan upaya sederhana yang konsisten akan mampu menahan laju kenaikan suhu bumi. Diego dan Marlies berharap kedepannya keindahan bumi ini masih bisa dinikmati oleh generasi ke depan.

Untuk itu, mari memulai langkah-langkah kecil kita dalam perjalanan panjang menjaga hayati dari kerusakan. Apakah kamu akan memulainya dengan mengurangi konsumsi plastik, menanam pohon, menjaga alam, mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dengan naik angkutan umum, berjalan kaki, atau beromantisme ria dengan sepeda seperti Diego dan Marlies lakukan? Saran saya, mulailah dari sekarang!

Laporan Transportologi ini disusun berdasarkan bincang-bincang bersama Diego dan Marlies yang diadakan atas kerjasama Rodariaid, Work Cofee Indonesia, greeners.co, Greeneration Indonesia, dan Lumpat pada 28 Maret 2019 di Bandung. Laporan ditulis oleh Titis Efrindu Bawono.

1 thought on “Everything in Between: Perjalanan Memaknai Hidup Manusia, Hewan, dan Tumbuhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *